Gerakan childfree sebenarnya sudah lama dibicarakan di luar negeri, tapi di Indonesia topik ini baru benar-benar meledak beberapa tahun terakhir. Setiap ada figur publik yang menyatakan pilihannya untuk tidak memiliki anak, langsung ramai dan berujung pro-kontra.
Saat membaca berbagai komentar netizen, saya melihat satu pola: masyarakat kita memang belum terbiasa dengan pilihan hidup yang tidak sesuai “pakem budaya”. Apalagi ketika viral di media sosial, reaksinya bisa berlipat ganda.
Dalam artikel ini, saya ingin membahas isu childfree yang pernah menjadi perbincangan sosial media beberapa tahun terakhir.
Daftar Isi
Kenapa Childfree Masih Terasa “Asing” di Indonesia?
Di Indonesia, menikah dan punya anak dianggap perjalanan hidup yang “normal”. Bahkan ada anggapan bahwa rumah tangga dianggap belum lengkap kalau belum ada momongan.
Karena budaya kita begitu kuat soal keluarga, pilihan childfree sering langsung dibaca sebagai: menolak kodrat, melawan norma, atau bentuk egoisme.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap orang punya perjalanan hidup, kondisi mental, dan alasan masing-masing.
Kenapa Childfree Jadi Perdebatan Besar di Indonesia?
1. Budaya dan norma masih mengakar kuat
Di Indonesia, anak dianggap sebagai penerus garis keturunan, sumber kebanggaan orang tua, bahkan “penjaga” ketika mereka tua nanti.
Jadi, ketika ada yang bilang “saya tidak mau punya anak”, banyak orang langsung menganggapnya aneh atau tidak wajar.
2. Persepsi bahwa childfree itu egois
Orang sering berkata:
“Kalau menikah tapi nggak punya anak, terus untuk apa menikah?”
Padahal tidak semua orang punya visi hidup yang sama.
3. Minimnya edukasi tentang pilihan hidup
Masyarakat kita belum terbiasa dengan konsep bahwa keputusan personal selama tidak merugikan orang lain harusnya sah-sah saja. Termasuk keputusan untuk punya atau tidak punya anak.
4. Tekanan sosial dari keluarga besar
Ini sering terjadi:
Baru menikah 3 bulan, sudah ditanya, “Kapan punya anak?”
Tekanan seperti ini bikin topik childfree semakin sensitif.
Kontroversi Gita Savitri dan Efek Domino di Media Sosial
Ketika Gita Savitri dan suaminya memutuskan untuk childfree, itu sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah pernah membahas ini sebelumnya. Tapi publik kembali heboh setelah komentarnya tentang:
“Not having kids is natural anti-aging… tidur 8 jam, nggak stres dengar anak nangis, dan kalau nanti keriput bisa bayar botox.”
Kalimat ini viral dan langsung memicu dua kubu:
Kubu yang Mendukung
Menganggap pendapat Gita sebagai bentuk kejujuran.
Mengatakan bahwa tidak punya anak memang mengurangi stres tertentu.
Mendukung hak individu untuk memilih hidup tanpa anak.
Kubu yang Menolak
Menganggap pernyataannya meremehkan orang tua atau ibu yang punya anak.
Menilai bahwa alasan anti-aging kedengarannya dangkal.
Menganggap komentarnya terlalu generalisasi.
Kontroversinya semakin besar karena masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan obrolan seperti ini. Apalagi disampaikan oleh figur publik dengan jutaan pengikut, efeknya jadi berlipat ganda.
Mengapa Keputusan Childfree Tidak Bisa Digeneralisasi?
Pilihan punya atau tidak punya anak itu sangat personal. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda:
1. Finansial
Biaya hidup makin naik, apalagi biaya sekolah dan kesehatan. Ada orang yang merasa belum sanggup menanggung itu.
2. Kesehatan mental & trauma masa kecil
Tidak semua orang lahir dari keluarga yang suportif. Ada yang mengalami kekerasan, pengabaian, atau tekanan emosional, sehingga takut mengulang pola yang sama pada anak.
3. Karier dan gaya hidup
Beberapa pasangan ingin fokus mengejar cita-cita atau menjalani hidup yang lebih bebas berpindah tempat.
4. Kesiapan emosional
Punya anak tidak hanya butuh uang, tapi juga kesiapan mental luar biasa.
Karena itu, keputusan childfree tidak bisa dibanding-bandingkan. Tidak semua orang punya tujuan hidup yang sama, dan itu normal.
Haruskah Kita Setuju Dengan Konsep Childfree?
Tidak harus.
Tidak ada kewajiban untuk setuju. Tapi sebagai masyarakat, kita bisa belajar untuk tidak menghakimi pilihan orang lain yang tidak merugikan kita.
Kalau kamu ingin punya anak, itu bagus.
>Kalau kamu ingin childfree, itu hak kamu.
>Kalau kamu masih ragu-ragu, itu juga wajar.
Yang tidak bagus adalah memaksakan standar hidup ke orang lain.
Penutup — Childfree Bukan Tren, Tapi Pilihan Hidup
Childfree mungkin masih terdengar awam di Indonesia. Budayanya beda, normanya beda, sudut pandangnya juga beda. Tapi diskusi tentang ini penting supaya masyarakat makin terbuka dan tidak mudah menghakimi.
Kontroversi Gita Savitri sebenarnya hanya trigger dari diskusi yang lebih besar: bahwa setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, hidup itu bukan soal mengikuti ekspektasi orang lain, tapi soal menjalani pilihan yang paling sesuai dengan dirimu.



Jaman dulu katanya banyak anak banyak rejeki, apakah dijaman ini masih relevan?
Secara sosial dan ekonomi pepatah ini tidak lagi universal. Relevansinya sangat bergantung pada: kondisi finansial keluarga, tujuan hidup, nilai budaya atau agama, kemampuan memberikan perhatian dan pendidikan pada anak.
Pada akhirnya, keputusan jumlah anak sebaiknya realistis dan berdasarkan kemampuan, bukan semata mengikuti pepatah lama.
Kalau kamu sendiri cenderung ke pandangan yang mana?
Lebih baik memperhatikan kualitas daripada kuantitas
Saya setuju soal ini.